Jumat, 14 September 2012

Pendemisioneran Hening

Katamu malam selalu hadirkan selu.


Sebab pada runduk-runduk sunyi aku memaki.
Pada celah Nypa frutican aku memagut.
Daunnya bergesek lantak angin berkejaran.

Sebab pada angin perairan muara aku menyepi

Dirajam-rajam dingin menggigil. Sepoi-sepoi sayup.
Aku masih mau menunggu.

Katamu pagi selalu menjawab mimpi.

Kemudian pada surya di balik deretan mangrove itu aku menggelitik
Diantara memori aku menyelipkan kenangan itu.
Lalu jemari menuliskan agar tiada luput.

Hangat masih menelisik kisi-kisi kalbu.
Masih mencoba beretorika
Kadang aku harus mampu menerima ketiadaan itu.


Suara gelombang masih memecah tepian batu-batu kali.
Menghantam pelan tempat kapal bersandar.
Kita masih dalam diam, diam dan diam.

: Coba beri tahu aku, apa yang harus aku lakukan untuk mendemisionerkan hening kita?

Indralaya - 22052012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar