Minggu, 23 September 2012


Indralaya, 23 September 2012
Selesai menonton Just Alvin malam ini yang bertemakan “ Love mom, love dad”. Tidak hanya mereka yang mengisi acara, saja yang melihat dari layar kaca juga meneteskan air mata. Bahkan juga ikut tersedu. Memang benar kata Vicky Shu. Tak ada yang lebih sakit daripada ditinggal pergi oleh orang tua, orang yang laing kita sayangi. Saya jadi ingat dengan emak dan ayah saya dirumah. Ayah saya termasuk tipikal orang yang keras dan selalu ingin disegani. Tapi jauh,jauh lebih dari itu ayah saya adalah tipe penyayang, Jadi, ia menunjukkan rasa sayangnya itu dengan keras terhadap kami terutama saya, anak perempuan satu-satunya. Waktu saya kecil sampai sekarang sepertinya, ia selalu mematikan televisi hingga belajar. Ayah tak pernah mau tahu tentang pelajaran saya,  ia hanya mau tahu nilai anaknya bagus. Bahkan selama saya duduk dibangku sekolahan,tidak pernah sekalipun ayah datang mengambikan raport saya. Waktu itu,ketika saya duduk di caturwulan terakhir kelas satu SD, saya mendapat peringkat satu. Ketika saya pulang kerumah dan mengabarkan pada ayah bahwa saya mendapat piagam peringkat satu, tanpa tedeng aling-aling ayah langsung membelikan saya sepeda mini. Padahal saaat itu saya bahkan belum lihai mengendarai sepeda.
Ayah tak banyak bicara memang, tetapi ayah selalu punya kejutan-kejutan kecil disela hari-hari kami. Ayah tak pernah menanyakan kebutuhan kami, tapi ia selalu berusaha memenuhinya. Waktu itu ayah pulang dari kantor membawa baju untuk saya dan emak. Ternyata ia sudah memesan terlebih dahulu tanpa sepengetahuan kami. Waktu itu emak hanya tersenyum simpul,”Warnanya pas sama emak”. Memang, tak ada yang lebih bahagia ketika kita mendapat kejutan dari orang yang kita sayangi. Ayah pendiam, ayah keras, namun sekali lagi, ayah selalu punya cara. Waktu duduk di taman kanak-kanak, setiap weekend ayah selalu mengajak saya jalan-jalan menggunakan motornya, entah itu ke pantai atau ketaman, tak lupa pula ia membawa serta kamera tustelnya, dan memotret saya.
Banyak cerita saya bersama ayah yang rasanya rindu sekali, bahkan ingin mengulangnya, karena sekarang tak lagi sehangat dulu. Satu hal yang membuat saya ngeri adalah ketika ayah sudah bicara panjang lebar menceramahi saya, waktu itu ketika peringkat saya turun. Saya takut sekali, bahkan saya seringkali menangis ketika ayah marah kepada saya. Bukan apa-apa, rasanya sedih saja ketika saya membuat ayah marah, dalam artian ternyata saya sudah membuat beliau kecewa. Ada banyak rentetan cerita-cerita hingga sampai saat ini tentang ayah. Tentang ayah yang pertama kali menentang keinginan saya untuk merantau menyebrang pulau, tentang ayah yang mengerti apa mau anaknya tanpa harus dikatakan. Namun sampai saat ini, saya masih tetap berusaha meyakinkan ayah, bahwa saya bisa kuliah disini,bahwa saya harus membanggakan ayah.  
Mungkin inilah insting ikatan batin antara ayah dengan anak-anaknya. Dua tahun lebih saya kuliah disini, hanya terhitung beberapa kali saya mennghubungi dan berbicara lewat telepon dengan ayah. Selebihnya saya menelepon emak. Ayah tak pernah mengirimkan kabar kalau ayah sudah mengirimi uang bulanan, tapi coba cek rekening pada setiap tanggal satu, saldo pasti sudah bertambah kembali. Itulah ayah. Waktu pergi lagi merantau bulan agustus kemarin, ayah sudah tak lagi mengantarkan saya kepelabuhan. Padahal biasanya, ayah dan emak selalu mengantar kepergian saya hingga kapal kami berangkat bertolak menuju Palembang. Tapi tetap, setiap saya pulang dan berangkat lagi,saya selalu menyalami punggung tangan ayah,memohon doa restu untuk perjuangan selanjutnya. Penglihatan ayah sekarang sudah tak seperti dulu lagi, ia sudah sulit untuk melihat dalam jarak pandang yang jauh. Sekarang, dalam masa pensiunnya ayah lebih menikmati masa senjanya dirumah, mengurusi rumah atau apa saja. Ayah sekarang lebih rajin kemasjid, dan bermain bersama cucu-cucunya. Ya Allah, cukupkanlah umur orang tua saya, sampai saya bisa membuat mereka tersenyum bahagia. Jangan pernah biarkan kami mengecewakan beliau yang sudah banyak mempertaruhkan hidup mereka hanya untuk kami.Karena jarang berbicara dengan ayah, itulah yang justru membuat saya lebih merindukannya ketimbang emak saya.
Saya masih ingat pesan singkat yang dikirmkan ayah waktu saya berulang tahun. Iya,ayah selalu ingat nomor handphone anak-anaknya, hari lahir anak-anaknya, bahkan plat kendaraan saja ia masih hafal dengan lugasnya. Waktu itu smsnya berbunyi seperti ini. “ Selamat ulang tahun,rajin-rajin belajar. Jangan kecewakan orang tua”. Saya sedang berada dikampus ketika membaca sms itu langsung meneteskan air mata. Ya allah, sampaikanlah kami pada masa kami mampu bahagiakan beliau, walau kami tak pernah kuasa membalas semua jasa mereka. Ingin juga rasanya ketika memakai toga dan berfoto didampingi oleh ayah dan emak tercinta. Ayah itu sosok yang telalu tegar, terlalu kuat untuk sosok seorang ayah. Ayah dan emak, jaga diri baik-baik disana. Anandamu hanya mampu menguraikan rindu lewat setangkup doa. Semoga Allah selalu menyertai setiap langkah kaki kita. Aamiin.
Cc: Anak-anak ayah – Oscar Sagita, Yulizar, Auliya Ruziq, Azrina Ulfah, Fahira Tamimy.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar