Rabu, 31 Oktober 2012

Untuk Setengah Daswarsa itu

2007
Andai ia tahu ketika rasa adalah segalanya. Jangan sampai rasa ini disia-siakan olehnya, dan aku masih mau menunggu.
Tapi ternyata takdir berkata lain.


2008
“Terimakasih untuk semuanya, terimakasih sudah menyayangiku. Tapi kau tahu, aku juga punya seseorang yang aku sayangi,” balasnya kaku.
Dunia serasa runtuh,penglihatanku gelap. Ternyata semua tak lagi sama.


2009
Aku berlarI menjauh,bukan karena pengecut,bukan karena takut. Aku cuma ingin menenangkan diri, bahwa kadang sesuatu yang bukan milik kita harus kita lepaskan. Tapi kau datang lagi dengan seribu harapan.
“Dika,kenapa tak lagi menghubungiku?Apa kau tak merindukanku,” sapamu riang di hari pertama kita bertemu tahun ini.
“Aku sebenarnya rindu, tapi aku takut rindu ini menjadi kesalahanku.”
Lalu kau meninggalkanku dengan tanda tanya dikepalamu,Pasti.

2010
Ternyata rindu ini memang masih miliknya,tidak untuk yang lainnya. Sampai akhirnya disuatu temoat kami bertemu, dengan situasi masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kaku dan bisu. Tentu saja, kami masih dengan kesendirian masing-masing.
“Apa kabarmu, lama kita tidak berjumpa,” Ia memulai percakapan.
“Iya, ternyata sudah setahun kita tidak bertemu.”
“Tempat ini masih seperti dulu. Sama seperti tahun sebelumnya.” Ia menerawang
Duh, cinta ini juga masih seperti dulu, hati kecilku berucap.


2011
Tahun ini kita dipisahkan waktu. Berada dalam situasi yang sama namun tak ada keinginan untuk saling menangguhkan satu sama lain. Entah itu basa-basi atau mengatakan kerinduan yang kesekian kalinya. Aku, kau, masih seperti yang dulu. Sepertinya tidak akan menjadi kita.

2012
Aku berniat mengakhiri segalanya. Sebisa mungkin tidak akan lagi menghubungi, meski sekedar bertanya keadaan atau yang lainnya. Aku sudah mulai tak lagi menyirami rasa itu dihatiku dan membiarkannya layu. Biar,biarlah.
Cukup setengah dasawarsa untuk bertahan dalam ketiadaan.
Dan aku,kau ternyata masih mampu bertahan dalam kesendirian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar