Sabtu, 20 April 2013

:)

Selamat malam. Mulai memulihkan blog ini. Kasihan, hidupnya mati suri. Ah,semoga selalu berkesempatan untk singgah kesini sebelum malam berakhir :)
Hari ini senja indah sekali.
Berkunjung ke RU,kemudian berdiri di villa ditengah danau, memperhatikan bebek beberk yang beriringan menepi. Maka bahagia mana lagi yang kau dustakan.
Mungkin sekarang sabtu-mingguku tak seperti dulu. Tapi masih tetap indah sama sekali :)
Selamat berakhir pekan :)
Semangat mengejar mimpi, semangat S.kel!

Senin, 11 Februari 2013

Aku Sakit



Suatu ketika di linimasa.

“Aku rindu sekali padamu, kamu kemana selama ini?Hampir seminggu tiada kabar, menghilang begitu saja.”
“Aku gak kemana-mana, aku sedang bersembunyi di hati kamu.”
“kamu gombal!”
“ Cepatlah kembali, aku sudah tak sabar.”
“Tunggu aku, ya!”
“Iya. :* ”

Tubuhku mendadak lemas. 
Penyakitku kambuh

Aku Sakit



Suatu ketika di linimasa.

“Aku rindu sekali padamu, kamu kemana selama ini?Hampir seminggu tiada kabar, menghilang begitu saja.”
“Aku gak kemana-mana, aku sedang bersembunyi di hati kamu.”
“kamu gombal!”
“ Cepatlah kembali, aku sudah tak sabar.”
“Tunggu aku, ya!”
“Iya. :* ”

Tubuhku mendadak lemas. 
Penyakitku kambuh

Aku Sakit



Suatu ketika di linimasa.

“Aku rindu sekali padamu, kamu kemana selama ini?Hampir seminggu tiada kabar, menghilang begitu saja.”
“Aku gak kemana-mana, aku sedang bersembunyi di hati kamu.”
“kamu gombal!”
“ Cepatlah kembali, aku sudah tak sabar.”
“Tunggu aku, ya!”
“Iya. :* ”

Tubuhku mendadak lemas. 
Penyakitku kambuh

Rabu, 31 Oktober 2012

Untuk Setengah Daswarsa itu

2007
Andai ia tahu ketika rasa adalah segalanya. Jangan sampai rasa ini disia-siakan olehnya, dan aku masih mau menunggu.
Tapi ternyata takdir berkata lain.


2008
“Terimakasih untuk semuanya, terimakasih sudah menyayangiku. Tapi kau tahu, aku juga punya seseorang yang aku sayangi,” balasnya kaku.
Dunia serasa runtuh,penglihatanku gelap. Ternyata semua tak lagi sama.


2009
Aku berlarI menjauh,bukan karena pengecut,bukan karena takut. Aku cuma ingin menenangkan diri, bahwa kadang sesuatu yang bukan milik kita harus kita lepaskan. Tapi kau datang lagi dengan seribu harapan.
“Dika,kenapa tak lagi menghubungiku?Apa kau tak merindukanku,” sapamu riang di hari pertama kita bertemu tahun ini.
“Aku sebenarnya rindu, tapi aku takut rindu ini menjadi kesalahanku.”
Lalu kau meninggalkanku dengan tanda tanya dikepalamu,Pasti.

2010
Ternyata rindu ini memang masih miliknya,tidak untuk yang lainnya. Sampai akhirnya disuatu temoat kami bertemu, dengan situasi masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kaku dan bisu. Tentu saja, kami masih dengan kesendirian masing-masing.
“Apa kabarmu, lama kita tidak berjumpa,” Ia memulai percakapan.
“Iya, ternyata sudah setahun kita tidak bertemu.”
“Tempat ini masih seperti dulu. Sama seperti tahun sebelumnya.” Ia menerawang
Duh, cinta ini juga masih seperti dulu, hati kecilku berucap.


2011
Tahun ini kita dipisahkan waktu. Berada dalam situasi yang sama namun tak ada keinginan untuk saling menangguhkan satu sama lain. Entah itu basa-basi atau mengatakan kerinduan yang kesekian kalinya. Aku, kau, masih seperti yang dulu. Sepertinya tidak akan menjadi kita.

2012
Aku berniat mengakhiri segalanya. Sebisa mungkin tidak akan lagi menghubungi, meski sekedar bertanya keadaan atau yang lainnya. Aku sudah mulai tak lagi menyirami rasa itu dihatiku dan membiarkannya layu. Biar,biarlah.
Cukup setengah dasawarsa untuk bertahan dalam ketiadaan.
Dan aku,kau ternyata masih mampu bertahan dalam kesendirian.

Jendela Belakang

Aku selalu kesana, kapan tahu aku merindukanmu. Sekalipun tidak ada rindu jua darimu.
Aku selalu mengarahkan pandanganku kesana, tiap kali aku mengkhwatirkan keadaanmu. Tapi aku yakin, kau baik-baik saja.

Kemudian selanjutnya, ketika hujan menderas, gemuruh menggelegar dan kilat membelah bumi : aku juga masih menatap pada satu sisi yang sama.
Kau sedang apa, semoga tidak kedinginan.

Lalu ketika jingga perlahan pergi,aku juga mencuri pandang kesana, senja kita masih sama bukan? kau juga pasti menikmatinya.
Malam itu,semuanya terhalang kabut, aku lagi-lagi menatap kesana untuk yang terakhir dalam setiap hariku.
Bintang dan bulan itu selalu berkawan dengan malam,walau tak terlihat tapi dia berada disana.
Aku hanya meminta satu hal, bisakah kau berjanji untuk tidak berubah?
pun itu aku bertanya dalam hati.
Aku selalu menatap kesana : jendela belakang kamarku.
~ 41012 

Jalan Terbaik

Hujan dari sepasang jendela bening itu. Hatiku basah.
Rasanya aku ingin melompati waktu saat ini.
“Kita baik-baik saja,kan?”
“Tapi Ibuku marah besar,kak.“
“Aku harus bagaimana?”
“Hanya ada satu cara”
“Apa? ayo kita lakukan.”
“Memberhentikan semua ini. ”
“Arghh,”
Kak Nathael bergegas berjalan menuju katedral diseberang jalan.

Aku menunduk mahfum,kemudian mengekor dibelakangnya menuju masjid di sebelah kafe ini. Waktu ashar tiba.
Cukup 115 hari kami menyatukan hati.

~Bertahan sayang dengan doamu
Kucoba bertanya pada Tuhanku - Tentang Hidup, SO7

Minggu, 23 September 2012


Indralaya, 23 September 2012
Selesai menonton Just Alvin malam ini yang bertemakan “ Love mom, love dad”. Tidak hanya mereka yang mengisi acara, saja yang melihat dari layar kaca juga meneteskan air mata. Bahkan juga ikut tersedu. Memang benar kata Vicky Shu. Tak ada yang lebih sakit daripada ditinggal pergi oleh orang tua, orang yang laing kita sayangi. Saya jadi ingat dengan emak dan ayah saya dirumah. Ayah saya termasuk tipikal orang yang keras dan selalu ingin disegani. Tapi jauh,jauh lebih dari itu ayah saya adalah tipe penyayang, Jadi, ia menunjukkan rasa sayangnya itu dengan keras terhadap kami terutama saya, anak perempuan satu-satunya. Waktu saya kecil sampai sekarang sepertinya, ia selalu mematikan televisi hingga belajar. Ayah tak pernah mau tahu tentang pelajaran saya,  ia hanya mau tahu nilai anaknya bagus. Bahkan selama saya duduk dibangku sekolahan,tidak pernah sekalipun ayah datang mengambikan raport saya. Waktu itu,ketika saya duduk di caturwulan terakhir kelas satu SD, saya mendapat peringkat satu. Ketika saya pulang kerumah dan mengabarkan pada ayah bahwa saya mendapat piagam peringkat satu, tanpa tedeng aling-aling ayah langsung membelikan saya sepeda mini. Padahal saaat itu saya bahkan belum lihai mengendarai sepeda.
Ayah tak banyak bicara memang, tetapi ayah selalu punya kejutan-kejutan kecil disela hari-hari kami. Ayah tak pernah menanyakan kebutuhan kami, tapi ia selalu berusaha memenuhinya. Waktu itu ayah pulang dari kantor membawa baju untuk saya dan emak. Ternyata ia sudah memesan terlebih dahulu tanpa sepengetahuan kami. Waktu itu emak hanya tersenyum simpul,”Warnanya pas sama emak”. Memang, tak ada yang lebih bahagia ketika kita mendapat kejutan dari orang yang kita sayangi. Ayah pendiam, ayah keras, namun sekali lagi, ayah selalu punya cara. Waktu duduk di taman kanak-kanak, setiap weekend ayah selalu mengajak saya jalan-jalan menggunakan motornya, entah itu ke pantai atau ketaman, tak lupa pula ia membawa serta kamera tustelnya, dan memotret saya.
Banyak cerita saya bersama ayah yang rasanya rindu sekali, bahkan ingin mengulangnya, karena sekarang tak lagi sehangat dulu. Satu hal yang membuat saya ngeri adalah ketika ayah sudah bicara panjang lebar menceramahi saya, waktu itu ketika peringkat saya turun. Saya takut sekali, bahkan saya seringkali menangis ketika ayah marah kepada saya. Bukan apa-apa, rasanya sedih saja ketika saya membuat ayah marah, dalam artian ternyata saya sudah membuat beliau kecewa. Ada banyak rentetan cerita-cerita hingga sampai saat ini tentang ayah. Tentang ayah yang pertama kali menentang keinginan saya untuk merantau menyebrang pulau, tentang ayah yang mengerti apa mau anaknya tanpa harus dikatakan. Namun sampai saat ini, saya masih tetap berusaha meyakinkan ayah, bahwa saya bisa kuliah disini,bahwa saya harus membanggakan ayah.  
Mungkin inilah insting ikatan batin antara ayah dengan anak-anaknya. Dua tahun lebih saya kuliah disini, hanya terhitung beberapa kali saya mennghubungi dan berbicara lewat telepon dengan ayah. Selebihnya saya menelepon emak. Ayah tak pernah mengirimkan kabar kalau ayah sudah mengirimi uang bulanan, tapi coba cek rekening pada setiap tanggal satu, saldo pasti sudah bertambah kembali. Itulah ayah. Waktu pergi lagi merantau bulan agustus kemarin, ayah sudah tak lagi mengantarkan saya kepelabuhan. Padahal biasanya, ayah dan emak selalu mengantar kepergian saya hingga kapal kami berangkat bertolak menuju Palembang. Tapi tetap, setiap saya pulang dan berangkat lagi,saya selalu menyalami punggung tangan ayah,memohon doa restu untuk perjuangan selanjutnya. Penglihatan ayah sekarang sudah tak seperti dulu lagi, ia sudah sulit untuk melihat dalam jarak pandang yang jauh. Sekarang, dalam masa pensiunnya ayah lebih menikmati masa senjanya dirumah, mengurusi rumah atau apa saja. Ayah sekarang lebih rajin kemasjid, dan bermain bersama cucu-cucunya. Ya Allah, cukupkanlah umur orang tua saya, sampai saya bisa membuat mereka tersenyum bahagia. Jangan pernah biarkan kami mengecewakan beliau yang sudah banyak mempertaruhkan hidup mereka hanya untuk kami.Karena jarang berbicara dengan ayah, itulah yang justru membuat saya lebih merindukannya ketimbang emak saya.
Saya masih ingat pesan singkat yang dikirmkan ayah waktu saya berulang tahun. Iya,ayah selalu ingat nomor handphone anak-anaknya, hari lahir anak-anaknya, bahkan plat kendaraan saja ia masih hafal dengan lugasnya. Waktu itu smsnya berbunyi seperti ini. “ Selamat ulang tahun,rajin-rajin belajar. Jangan kecewakan orang tua”. Saya sedang berada dikampus ketika membaca sms itu langsung meneteskan air mata. Ya allah, sampaikanlah kami pada masa kami mampu bahagiakan beliau, walau kami tak pernah kuasa membalas semua jasa mereka. Ingin juga rasanya ketika memakai toga dan berfoto didampingi oleh ayah dan emak tercinta. Ayah itu sosok yang telalu tegar, terlalu kuat untuk sosok seorang ayah. Ayah dan emak, jaga diri baik-baik disana. Anandamu hanya mampu menguraikan rindu lewat setangkup doa. Semoga Allah selalu menyertai setiap langkah kaki kita. Aamiin.
Cc: Anak-anak ayah – Oscar Sagita, Yulizar, Auliya Ruziq, Azrina Ulfah, Fahira Tamimy.   

Jumat, 14 September 2012

Semacam


Mirip pohon,meski ia lebih kokoh.
Seperti ranting,tapi ia tidak rapuh.
Serupa daun,tapi tiada gugur.
Namanya rindu.

Tahun berganti,,musim berubah.
Ombak masih mengikis perlahan karang tegak itu.
Setiap hari. Bisa rapuh,bisakah tergerus?

Kurasa bisa, tapi entah suatu ketika.
Kusebut rindu.

Sebab menurutku rindu butuh alasan : Aku masih mau menunggu.

Kalau nanti pikiranmu berubah, silahkan hubungi aku.
Semoga rindu itu masih ada.

Pendemisioneran Hening

Katamu malam selalu hadirkan selu.


Sebab pada runduk-runduk sunyi aku memaki.
Pada celah Nypa frutican aku memagut.
Daunnya bergesek lantak angin berkejaran.

Sebab pada angin perairan muara aku menyepi

Dirajam-rajam dingin menggigil. Sepoi-sepoi sayup.
Aku masih mau menunggu.

Katamu pagi selalu menjawab mimpi.

Kemudian pada surya di balik deretan mangrove itu aku menggelitik
Diantara memori aku menyelipkan kenangan itu.
Lalu jemari menuliskan agar tiada luput.

Hangat masih menelisik kisi-kisi kalbu.
Masih mencoba beretorika
Kadang aku harus mampu menerima ketiadaan itu.


Suara gelombang masih memecah tepian batu-batu kali.
Menghantam pelan tempat kapal bersandar.
Kita masih dalam diam, diam dan diam.

: Coba beri tahu aku, apa yang harus aku lakukan untuk mendemisionerkan hening kita?

Indralaya - 22052012

Selasa, 11 September 2012

Pelabuhan

Pelabuhan hanyalah tempat kapal menambatkan talinya. 
Tak tahu apakan akan jadi perhentian sementara ataukah yang terakhir.
Namun suatu saat bisa terlepas dan membuang sauh, pergi menuju pelabuhan yang lainnya.

Senin, 10 September 2012

Akhirnyaaa

Akhirnya gue bisa masuk lagi ke blog gue, yang udah berumur tiga tahun. *halah. Senengnya gak ketulungan. Aaaakk~ dengan mengingat-ngingat password jaman dahulu kala. Maklum,passwordnya nomor hape lama yang udah gak aktif lagi. Thanks god :)
Gegara lupa password ini bikin gue pindah rumah ke tumblr. Hhahaha.
Fyi aja sih, alamat rumah baru gue di tumblr itu azrinaulfah.tumblr.com, maen-maen ya kesana kalo mau. Isi rumahnya berantakan dan gak jelas.
*maluuu*

Dusta yang Tak Terlihat


Bertahun-tahun lamanya Indah menyimpan semuanya. Menyimpan rasa cemburu,rasa sayang,rasa cinta dan air mata yang seringkali meluap tanpa dinyana. Indah hanya tau ia bukan siapa-siapa di mata Satria. Ya, Satria hanya menganggap Indah teman, tak lebih. Sementara indah, dalam hatinya ia selalu membayangkan hari-hari suatu saat nanti akan lebih indah dari sekarang ini. Tapi menurut feeling indah,ini hanya sesuatu hal untuk membesarkan hatinya.

Akhir Perkuliahan.
"Ndah,gue lagi deket sama cewek jurusan seberang nih," ucap Satria ceria.
 "Oh, cewek yang mana?cewek yang satu kelas sama kita waktu itu,ya kali?", balas Indah dengan antusias.
“Hahaha, seratus buat loe ndah,” jawab Satria. Indah nyengir lebar.
“Gih, samperin. Minta pin bb-nya, trus ajak nge-date, terserah loe deh. Pokoknya kalo jadian gue harus jadi orang pertama yang loe traktir,” Indah mengatakan seraya membereskan diktat kuliahnya.
“Gampanglah itu boi,ntar gue bawain sekarung magnum special buat loe ndah. Hahahhaa.  Berarti loe bukung gue seratus persen kan dah?makanya ndah,doain gue ndah. Kapan lagi ndah. Gue pengen lepas dari kejombloan gue yang mengakibatkan sia-sia,” cerocos Satria tanpa henti.
“Hahahha,iya.iya. Gampang juga masbro, gue aminin dah. Selama itu suatu hal yang baik buat loe,”jawab Indah tulus.
“Dah ah, nyok ke kantin. Cacing mulai gelisah,”Ajak Satria kepada Indah. Mengisyaratkan untuk segera meni nggalkan ruang perkuliahan.

Indah berjalan keluar, disusul dengan Satria yang mengekor dari belakang. Pada saat itu Satria tak tahu, ada sepasang mata yang sedang mengembun,berkaca-kaca. Tanpa sadar, Indah meneteskan air matanya. Kejadian ini berulang lagi,ujarnya dalam hati. Inikah dusta yang tak terlihat itu?

Bertahun-tahun Indah terjebak disini. Terbiasa tertawa bersama,terbiasa kocak,terbiasa apa adanya. Seperti tak ada apa-apa. Padahal jauh didalam hatinya ia selalu memperhatikan Satria. Memperhatikan senyuman Satria, memandang Satria menghilang dari pelupuk matanya, berdoa untuk Satria. Tapi Satria tak pernah peduli, Satria tidak terlalu peka terhadap Indah. Ia tak pernah bertanya mengapa sampai saat ini Indah masih betah sendiri. Satria hanya tau Indah adalah sahabat yang tulus, sahabat yang selalu ada.  Sedang Indah hanya mampu terus-terusan berharap, bahwa suatu saat nanti ia ada didalam hati Satria. Namun Indah terlanjut terbiasa, terbiasa bertahan dalam posisi sebagaimana mestinya.

Ketika Satria berusaha melangkah lebih cepat, menyamai langkah Indah. Indah menghapus air matanya.